Ringkasan: Studi Thornton et al. yang terbit di Monthly Notices of the Royal Astronomical Society (Mei 2026) melaporkan 27 kandidat planet sirkumbiner baru dari data NASA TESS — ditemukan bukan lewat transit, melainkan lewat metode apsidal precession yang belum pernah digunakan dalam skala besar sebelumnya. Temuan ini membuka kemungkinan bahwa planet berbintang ganda jauh lebih umum dari yang selama ini diperkirakan.
Apa Itu Planet Mirip Tatooine dan Mengapa NASA TESS Menemukannya Sekarang?

Kalau kamu pernah nonton Star Wars, kamu pasti ingat matahari ganda yang tenggelam di cakrawala Tatooine. Itu bukan cuma fiksi ilmiah. Dalam astronomi nyata, planet yang mengorbit dua bintang sekaligus disebut planet sirkumbiner (circumbinary planet, disingkat CBP).
Selama lebih dari satu dekade, para astronom mengandalkan metode transit — mendeteksi peredupan cahaya bintang ketika planet melintas di depannya — untuk menemukan CBP. Hasilnya terbatas: hanya 14 CBP yang berhasil dikonfirmasi lewat Kepler dan TESS hingga awal 2026, ditambah dua penemuan TESS lewat transit (TOI-1338 b dan TIC 172900988 b).
Metode transit punya kelemahan struktural: ia hanya bisa mendeteksi planet yang orbitnya hampir sejajar sempurna dengan garis pandang kita dari Bumi. Planet dengan orbit “miring” — yang kemungkinan besar jauh lebih banyak — tidak terlihat sama sekali.
Pada Mei 2026, segalanya berubah.
Metode Baru yang Mengubah Segalanya: Apsidal Precession

Margo Thornton, Benjamin T. Montet, Riley White, dan tim mereka dari University of New South Wales (UNSW) dan institusi mitra tidak mencari planet lewat peredupan cahaya. Mereka mencari perubahan waktu.
Cara Kerja Apsidal Precession dalam 4 Langkah

- Pantau bintang biner gerhana. Dua bintang yang saling mengitari akan saling menutupi secara periodik — inilah eclipsing binary. TESS merekam ribuan sistem seperti ini.
- Ukur jadwal gerhana dengan presisi tinggi. Setiap gerhana dicatat waktunya secara akurat dari data fotometri TESS.
- Cari deviasi yang tidak bisa dijelaskan. Relativitas umum dan interaksi pasang surut bintang (tidal effects) bisa mengubah jadwal gerhana sedikit — tapi ada batas prediksinya.
- Deviasi di luar batas itu = sinyal benda ketiga. Jika perubahan jadwal tidak bisa dijelaskan oleh fisika bintang biasa, kemungkinan besar ada planet tak terlihat yang menarik gravitasi sistem itu.
Tim menganalisis 1.590 sistem bintang biner gerhana dari Katalog Gaia DR3 menggunakan data fotometri TESS. Hasilnya: 27 kandidat planet sirkumbiner yang sebelumnya tidak terdeteksi dengan cara apapun.
“Ini langkah pertama yang sangat menarik — dan juga menunjukkan bahwa masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan dalam beberapa tahun ke depan.”
— Ben Montet, co-author, UNSW Sydney (Sci.News, Mei 2026)
Data Lengkap 27 Kandidat Planet Mirip Tatooine

| Karakteristik | Detail | Sumber |
|---|---|---|
| Jumlah kandidat | 27 planet sirkumbiner | Thornton et al., MNRAS 2026 |
| Ukuran terkecil | ~massa Neptunus | Thornton et al., MNRAS 2026 |
| Ukuran terbesar | ~10× massa Jupiter | Thornton et al., MNRAS 2026 |
| Jarak terdekat dari Bumi | ~650 tahun cahaya | Thornton et al., MNRAS 2026 |
| Jarak terjauh dari Bumi | ~18.000 tahun cahaya | Thornton et al., MNRAS 2026 |
| Distribusi di langit | Tersebar di langit selatan & utara | Thornton et al., MNRAS 2026 |
| Metode deteksi | Apsidal precession (bukan transit) | Thornton et al., MNRAS 2026 |
| Data sumber | Fotometri NASA TESS + Katalog Gaia DR3 | Thornton et al., MNRAS 2026 |
| Status konfirmasi | Kandidat (belum dikonfirmasi) | Per Mei 2026 |
| Publikasi | MNRAS Vol. 548, Issue 3, Mei 2026 | DOI: 10.1093/mnras/stag515 |
Untuk konteks, bandingkan dengan total capaian TESS secara keseluruhan: per 3 Mei 2026, NASA TESS telah mengidentifikasi 7.931 kandidat eksoplanet, di mana 885 di antaranya telah dikonfirmasi (Wikipedia/NASA HEASARC, Mei 2026).
Mengapa Ini Berbeda dari Penemuan Sebelumnya

Sebelum studi Thornton et al., ada dua masalah besar dalam pemahaman kita tentang CBP:
Masalah 1: Bias sampel yang ekstrem. Semua CBP yang dikonfirmasi sebelumnya adalah sistem coplanar — planet dan bintang binernya berputar di bidang yang sama. Ini bukan karena CBP memang demikian; ini karena transit hanya bisa mendeteksi konfigurasi itu.
Masalah 2: Jumlah yang sangat kecil. 14 CBP dari ribuan eksoplanet total adalah angka yang sangat kecil. Apakah CBP memang langka, atau kita hanya tidak bisa melihatnya? Studi baru ini menjawab: kita yang tidak bisa melihatnya — selama ini.
Apsidal precession tidak punya batasan bias orientasi. Ia bisa mendeteksi planet dengan orbit miring sekalipun. Artinya, 27 kandidat baru ini mewakili tipe planet yang sebelumnya sama sekali tidak terjangkau oleh metode apapun.
Untuk perspektif lebih luas tentang betapa beragamnya planet yang sudah ditemukan di sekitar kita, termasuk 4 planet baru di Barnard’s Star yang hanya 6 tahun cahaya dari Bumi, kita melihat pola yang sama: instrumen dan metode baru selalu membuka jendela ke populasi planet yang tak terlihat sebelumnya.
Potensi Skala Penemuan di Masa Depan

Ini bagian yang benar-benar mengubah perspektif.
Ben Montet menyebut bahwa distribusi 27 kandidat ini — tersebar di seluruh langit — mengimplikasikan sesuatu yang besar: bisa ada ribuan hingga puluhan ribu planet sirkumbiner yang menunggu ditemukan, khususnya lewat survei langit 10 tahun dari Vera C. Rubin Observatory (Legacy Survey of Space and Time / LSST) yang sedang berjalan.
Kepler menemukan 12 CBP. TESS transit menambah 2. Apsidal precession dalam satu studi ini langsung menambah 27 kandidat dari sampel 1.590 bintang. Kalau skala ke seluruh katalog bintang yang akan dipantau Rubin Observatory — angkanya bisa explode.
Perbedaan Metode Deteksi CBP: Transit vs Apsidal Precession

| Aspek | Transit | Apsidal Precession |
|---|---|---|
| Yang diukur | Peredupan cahaya bintang | Perubahan timing gerhana biner |
| Syarat orientasi orbit | Harus hampir coplanar dengan garis pandang | Tidak ada syarat orientasi |
| Planet yang bisa terdeteksi | Hanya orbit sejajar | Orbit miring pun bisa |
| CBP yang ditemukan s/d 2025 | 14 (Kepler) + 2 (TESS) | — |
| CBP kandidat dari studi baru | — | 27 (Thornton et al. 2026) |
| Bias sampel | Tinggi (coplanar only) | Lebih rendah |
| Cocok untuk survei besar | Terbatas | Ya (semi-otomatis, scalable) |
Apa Selanjutnya untuk 27 Kandidat Ini?
Penting untuk dicatat: ke-27 sistem ini masih berstatus kandidat, bukan planet yang dikonfirmasi. Konfirmasi membutuhkan:
- Observasi follow-up menggunakan teleskop berbasis darat atau James Webb Space Telescope (JWST) untuk mengukur variasi kecepatan radial atau sinyal lain.
- Eliminasi false positive — apakah sinyal apsidal precession memang berasal dari planet, atau bisa dijelaskan oleh faktor lain seperti bintang ketiga yang redup?
- Karakterisasi massa dan orbit yang lebih presisi.
Di saat yang sama, tim Davies et al. (April 2026, arXiv:2604.09435) juga mempublikasikan metode semi-otomatis transit berbasis TESS untuk mencari CBP — dua pendekatan komplementer yang berjalan paralel, memperkuat momentum pencarian CBP di 2026.
Ini bukan akhir cerita. Ini permulaan gelombang baru.
Kalau kamu penasaran dengan planet-planet di tata surya kita sendiri yang punya kondisi paling ekstrem — termasuk mengapa Venus lebih panas dari Merkurius dan planet mana yang paling gila cuacanya — dinamika sistem bintang ganda ini bahkan lebih ekstrem dari itu semua.
Implikasi untuk Pemahaman Kita tentang Pembentukan Planet
Selama ini, model pembentukan planet di sekitar bintang biner dianggap jauh lebih sulit dibanding bintang tunggal. Gangguan gravitasi dari dua bintang seharusnya menghambat pembentukan planet — terutama di orbit dalam sistem.
Tapi data berkata lain. Mayoritas CBP yang sudah dikonfirmasi orbit tepat di dekat batas stabilitas kritis sistem binernya. Itu bukan kebetulan — ada mekanisme fisika yang mendorong planet bermigrasi ke lokasi itu setelah terbentuk lebih jauh.
Dengan 27 kandidat baru yang mencakup ukuran Neptune hingga super-Jupiter, dan tersebar dari 650 hingga 18.000 tahun cahaya, para astronom kini punya sampel yang jauh lebih beragam untuk menguji model-model pembentukan tersebut.
FAQ
Apakah 27 planet mirip Tatooine ini bisa dihuni manusia?
Belum ada data yang cukup untuk menilai habitabilitas. Sebagian besar kandidat berukuran antara Neptunus hingga lebih besar dari Jupiter — kemungkinan besar planet gas, bukan berbatu. Planet gas tidak punya permukaan padat untuk dihuni. Namun, beberapa mungkin punya bulan berbatu — seperti konsep Pandora di Avatar — yang secara teoritis bisa mendukung kondisi lebih layak huni.
Berapa lama sampai 27 kandidat ini dikonfirmasi?
Konfirmasi CBP bisa memakan waktu 1–5 tahun tergantung instrumen yang digunakan dan kompleksitas orbitnya. JWST adalah kandidat terkuat untuk follow-up, tapi waktu observasinya sangat terbatas dan diperebutkan banyak proyek.
Apa bedanya planet sirkumbiner dengan planet biasa?
Planet biasa mengorbit satu bintang. Planet sirkumbiner mengorbit dua bintang sekaligus — yang artinya planet tersebut memiliki dua “matahari” di langitnya, dengan pola terbit-terbenam yang jauh lebih kompleks dan tidak teratur dibanding Bumi.
Mengapa metode apsidal precession belum digunakan sebelumnya dalam skala besar?
Metode ini sudah dikenal untuk mengkarakterisasi bintang biner — tapi menggunakannya untuk mencari planet dalam ribuan sistem sekaligus membutuhkan kombinasi data fotometri berkualitas tinggi (yang baru tersedia dari TESS dalam skala besar), katalog bintang presisi (dari Gaia DR3), dan pipeline analisis yang cukup efisien.
Apakah NASA TESS masih aktif beroperasi?
Ya. Per Mei 2026, TESS masih aktif dalam misi perpanjangannya, dengan total 885 eksoplanet terkonfirmasi dan lebih dari 7.900 kandidat (NASA HEASARC, Mei 2026).
Adakah planet sirkumbiner di dekat tata surya kita?
Kandidat terdekat dari studi baru ini berjarak sekitar 650 tahun cahaya — jauh, tapi bukan yang terjauh dalam katalog eksoplanet. Untuk perbandingan, planet-planet di Barnard’s Star hanya 6 tahun cahaya dari Bumi — meski bukan sirkumbiner.
Kesimpulan Operasional
27 kandidat planet sirkumbiner dari studi Thornton et al. bukan sekadar angka baru. Ini adalah bukti bahwa selama ini kita mengukur alam semesta dengan penggaris yang terlalu pendek.
Metode apsidal precession membuka dimensi baru dalam pencarian eksoplanet — planet yang orbit dan geometrinya tidak cocok untuk transit, tapi nyata adanya. Dengan Vera C. Rubin Observatory yang akan memantau seluruh langit dalam 10 tahun ke depan, angka 27 ini mungkin hanya tip of the iceberg.
Astronomi 2026 bukan tentang menemukan lebih banyak planet dengan cara lama. Ini tentang menemukan cara baru untuk melihat planet yang selama ini tidak terlihat.
Referensi utama:
- Referensi utama:
- Thornton, M., Montet, B.T., White, R., Shao, A., Kumar, D.T. (2026). Detection of 27 candidate circumbinary planets through apsidal precession of eclipsing binaries observed by TESS. Monthly Notices of the Royal Astronomical Society, 548(3), stag515.
- Davies, B.D.R., et al. (2026). Finding Circumbinary Planets: A Semi-Automated Transit Search of TESS Eclipsing Binaries. arXiv:2604.09435
- NASA HEASARC. (2026, Mei). TESS Publications.
- NASA SVS. (2026, Mei). TESS Finds Possible New Worlds Using Stellar Eclipses.
