Bayangkan sebuah badai yang begitu besar hingga bisa menelan 1,3 kali diameter Bumi, dan yang lebih mengejutkan—badai ini sudah berputar tanpa henti selama lebih dari 190 tahun. Ini bukan cerita fiksi ilmiah, melainkan fenomena nyata yang terjadi di planet Jupiter.
Great Red Spot (GRS) atau Bintik Merah Raksasa adalah badai antisiklon terbesar di tata surya dengan lebar mencapai 16.350 kilometer, menghasilkan kecepatan angin hingga 432-680 km/jam. Berbeda dengan badai di Bumi yang hanya bertahan beberapa hari, Jupiter punya badai 350 tahun tak pernah berhenti—atau setidaknya lebih dari satu abad berdasarkan pengamatan berkelanjutan sejak 1831.
Bagi para pengamat langit di Indonesia atau siapa pun yang tertarik dengan astronomi, Great Red Spot adalah salah satu objek paling ikonik yang bisa diamati melalui teleskop. Tapi ada rahasia menarik di balik badai legendaris ini yang baru-baru ini terungkap oleh NASA.
Great Red Spot adalah badai antisiklon berukuran 16.000 kilometer yang telah diamati sejak tahun 1831, menjadikannya berusia minimal 190 tahun. Studi terbaru tahun 2024 menunjukkan bahwa badai yang diamati pada abad ke-17 (1665-1713) kemungkinan besar adalah badai yang berbeda, bukan Great Red Spot yang kita lihat sekarang.
Sejarah Penemuan: Dari Cassini hingga Teleskop Hubble

Kontroversi 350 Tahun vs 190 Tahun
Pada tahun 1665, astronom Italia Giovanni Cassini mengamati bintik besar di Jupiter yang disebutnya “Permanent Spot.” Observasi terakhir terhadap bintik ini tercatat pada tahun 1713, kemudian menghilang selama lebih dari satu abad.
Penelitian terbaru yang dipublikasikan pada Juni 2024 oleh Agustín Sánchez-Lavega dari University of the Basque Country menyimpulkan bahwa Great Red Spot saat ini kemungkinan besar BUKAN badai yang sama dengan yang diamati Cassini. Permanent Spot kemungkinan menghilang antara pertengahan abad ke-18 dan ke-19.
Timeline Observasi:
- 1664-1665: Robert Hooke dan Giovanni Cassini pertama kali mengamati bintik besar di Jupiter
- 1713: Observasi terakhir terhadap “Permanent Spot” Cassini
- 1831: Bintik baru muncul pada lintang yang sama—ini adalah Great Red Spot modern
- 1878: Observasi kontinyu dimulai hingga sekarang
- 2024: Studi simulasi memastikan GRS saat ini berbeda dari Permanent Spot Cassini
Kesimpulan penelitian: “Dari pengukuran ukuran dan pergerakan, kami menyimpulkan sangat tidak mungkin Great Red Spot saat ini adalah ‘Permanent Spot’ yang diamati Cassini. Permanent Spot mungkin menghilang antara pertengahan abad ke-18 dan ke-19, yang artinya umur Great Red Spot saat ini melebihi 190 tahun.”
Mengapa Ini Penting?
Meskipun Great Red Spot “hanya” berusia 190+ tahun (bukan 350 tahun), fakta bahwa sebuah badai bisa bertahan hampir 2 abad tanpa daratan yang menghentikannya tetaplah fenomena luar biasa yang tidak ada tandingannya di Bumi.
Karakteristik Fisik: Raksasa yang Terus Menyusut

Ukuran dan Dimensi Terkini
Pada April 2017, Great Red Spot memiliki lebar 16.350 km (10.160 mil), atau 1,3 kali diameter Bumi. Namun ukuran ini terus menyusut—pada akhir abad ke-19, panjangnya mencapai 48.000 km atau sekitar 3 kali diameter Bumi.
Perbandingan Ukuran:
- 1879: ~48.000 km (3x diameter Bumi)
- 1979 (Voyager): ~23.000 km (1,8x diameter Bumi)
- 2017: ~16.350 km (1,3x diameter Bumi)
- Penyusutan per tahun sejak 2012: ~900 km/tahun
Jika laju penyusutan saat ini berlanjut, Great Red Spot akan menjadi bentuk bulat (circular) pada tahun 2040.
Kecepatan Angin yang Dahsyat
Seperti badai di Bumi, bagian tengah Great Red Spot relatif tenang, tetapi di bagian luarnya, angin bertiup dengan kecepatan 430 hingga 680 kilometer per jam (270 hingga 425 mil per jam). Sebagai perbandingan, Badai Katrina di Amerika Serikat memiliki kecepatan angin maksimum “hanya” 280 km/jam.
Great Red Spot berputar berlawanan arah jarum jam dengan periode rotasi sekitar 4,5 hari Bumi atau 11 hari Jupiter (data 2008).
Lokasi dan Posisi
Great Red Spot terletak pada 22 derajat lintang selatan ekuator Jupiter. Meskipun lintangnya stabil, longitudnya terus bervariasi, termasuk osilasi 90 hari dengan amplitudo sekitar 1 derajat.
Penemuan Terbaru NASA 2023-2024: Badai yang “Bergoyang”

Observasi Revolusioner Teleskop Hubble
Antara Desember 2023 hingga Maret 2024, Teleskop Hubble NASA melakukan observasi intensif terhadap Great Red Spot selama 90 hari. Penelitian ini dipimpin oleh Amy Simon dari NASA Goddard Space Flight Center.
Temuan Mengejutkan:
“Meskipun kami tahu gerakannya bervariasi sedikit dalam longitudnya, kami tidak mengharapkan ukurannya berosilasi. Sejauh yang kami tahu, ini belum pernah diidentifikasi sebelumnya,” kata Amy Simon. “Ini benar-benar pertama kalinya kami memiliki kadens pencitraan yang tepat untuk GRS”.
Data terbaru menunjukkan Great Red Spot bergetar seperti mangkuk gelatin (jiggling like a bowl of gelatin). Badai ini mengalami osilasi dalam bentuk elipsnya—kadang terlihat lebih kurus, kadang lebih gemuk.
Mengapa Badai Ini “Bergoyang”?
Mike Wong dari University of California Berkeley menjelaskan: “Saat badai berakselerasi dan berdeselerasi, GRS mendorong aliran jet angin di utara dan selatannya. Ini mirip dengan roti sandwich yang dipaksa menonjol keluar ketika ada terlalu banyak isian di tengah”.
Fenomena osilasi 90 hari ini menunjukkan bahwa Great Red Spot bukanlah struktur statis—ia berinteraksi dinamis dengan sistem angin Jupiter yang kompleks.
Implikasi untuk Pemahaman Cuaca Planet
Memahami mekanisme badai terbesar di tata surya menempatkan teori badai di Bumi ke dalam konteks kosmik yang lebih luas, yang mungkin dapat diterapkan untuk lebih memahami meteorologi planet-planet di sekitar bintang lain.
Mengapa Badai Ini Bisa Bertahan Ratusan Tahun?

Tidak Ada Daratan untuk Menghentikannya
Faktor signifikan dalam umur panjangnya adalah fakta bahwa Jupiter, sebagai planet gas, tidak memiliki permukaan, sehingga tidak ada gesekan untuk memperlambat badai.
Di Bumi, badai seperti topan atau hurricane kehilangan energinya segera setelah melewati daratan karena:
- Gesekan dengan permukaan mengurangi kecepatan angin
- Kehilangan sumber energi dari uap air laut hangat
- Interaksi dengan topografi menurunkan tekanan sistem
Jupiter tidak memiliki hambatan-hambatan ini.
Sumber Energi yang Berkelanjutan
Great Red Spot mungkin setara dengan badai raksasa yang didukung oleh kondensasi air, amonia, atau keduanya di tingkat yang lebih rendah dalam atmosfer Jupiter. Alternatifnya, badai ini mungkin menarik energinya dari pusaran-pusaran kecil yang bergabung dengannya atau dari arus berkecepatan tinggi di kedua sisinya.
Mekanisme Pemeliharaan Energi:
- Kondensasi atmosfer: Proses kondensasi amonia dan air melepaskan panas
- Absorpsi badai kecil: Great Red Spot “memakan” vortex yang lebih kecil
- Interaksi dengan jet stream: Aliran angin berkecepatan tinggi memberi energi tambahan
- Ukuran masif: Momentum yang sangat besar membuatnya sulit berhenti
Warna Merah Misterius: Apa yang Membuatnya Begitu Unik?

Teori Komposisi Kimia
Penyebab warna merah Great Red Spot masih belum sepenuhnya dipahami. Beberapa peneliti berpikir ini bisa disebabkan oleh bahan kimia seperti amonia di bagian atas badai. Saran lainnya berkisar dari senyawa sulfur dan fosfor hingga bahan organik, yang bisa diproduksi oleh petir atau reaksi fotokimia di ketinggian tinggi.
Perubahan Warna Sepanjang Waktu
Dilihat melalui teleskop dari Bumi, warnanya bervariasi dari tahun ke tahun—dari merah-salmon hingga abu-abu, ketika mungkin menyatu dengan warna sabuk awan sekitarnya.
Sejak 2014, Great Red Spot telah mengambil warna oranye kemerahan yang perlahan mengintensif, menurut NASA. Perubahan ini bisa disebabkan oleh perubahan komposisi kimia badai atau distribusi gas di dalam dan di atasnya.
Perbandingan dengan Badai di Planet Lain
Badai di Bumi vs Jupiter
| Aspek | Badai Bumi (Hurricane) | Great Red Spot Jupiter |
| Ukuran | 300-800 km | 16.350 km |
| Durasi | 3-14 hari | 190+ tahun |
| Kecepatan Angin | 120-280 km/jam | 430-680 km/jam |
| Tipe Sistem | Siklon (tekanan rendah) | Antisiklon (tekanan tinggi) |
| Sumber Energi | Uap air laut hangat | Kondensasi atmosfer + jet stream |
Great Dark Spot Neptunus: Badai yang Pendek Umur
Great Red Spot tidak boleh disamakan dengan Great Dark Spot, fitur yang diamati di dekat kutub utara Jupiter pada tahun 2000 dengan pesawat Cassini-Huygens. Ada juga fitur di atmosfer Neptunus yang disebut Great Dark Spot, yang dicitrakan oleh Voyager 2 pada 1989 dan mungkin merupakan lubang atmosfer daripada badai—fitur ini menghilang pada 1994.
Perbedaan utama: Neptunus tidak memiliki sistem angin jet yang kuat seperti Jupiter untuk “mengunci” badai pada satu lintang, sehingga badai-badai di Neptunus melayang bebas dan cepat menghilang.
Masa Depan Great Red Spot: Apakah Akan Menghilang?
Prediksi Berdasarkan Data Terkini
Tim peneliti NASA telah terus mengamati penyusutan GRS sejak program OPAL (Outer Planet Atmospheres Legacy) dimulai 10 tahun yang lalu. Mereka memprediksi badai akan terus menyusut sebelum mengambil bentuk yang stabil dan kurang memanjang.
Amy Simon menjelaskan: “Saat ini badai mengisi pita lintangnya secara berlebihan relatif terhadap medan angin. Begitu menyusut di dalam pita tersebut, angin benar-benar akan menahannya di tempatnya”.
Kemungkinan Skenario
- Stabilisasi: Badai menyusut ke ukuran yang seimbang dengan jet stream dan bertahan ratusan tahun lagi
- Hilang Sepenuhnya: Seperti Permanent Spot Cassini, GRS bisa menghilang dalam beberapa dekade
- Regenerasi: Badai baru bisa terbentuk di tempat yang sama seperti yang terjadi setelah Permanent Spot menghilang
Beberapa penelitian mengemukakan hipotesis bahwa bintik tersebut bisa menghilang dalam beberapa dekade, tetapi karena peneliti tidak sepenuhnya memahami bagaimana dan mengapa bintik tersebut berubah, badai ini juga mungkin bertahan lebih lama—mungkin berabad-abad lagi.
Bagaimana Mengamati Great Red Spot dari Indonesia
Peralatan yang Dibutuhkan
Kabar baiknya: Great Red Spot bisa diamati dengan teleskop amatir yang tersedia di Indonesia!
Rekomendasi Minimum:
- Teleskop refraktor 90mm atau reflektor 4 inci
- Perbesaran 100-150x
- Kondisi langit yang cerah (sebaiknya jauh dari polusi cahaya kota)
- Filter warna (opsional, untuk meningkatkan kontras)
Waktu Terbaik Observasi
Jupiter terlihat paling terang saat oposisi (berada di sisi berlawanan Matahari dari Bumi), yang terjadi sekitar setiap 13 bulan. Great Red Spot berputar sekali setiap 10 jam, jadi Anda perlu mengecek jadwal kapan bintik tersebut menghadap Bumi.
Tips Praktis:
- Gunakan aplikasi seperti SkySafari atau Stellarium untuk tracking posisi Jupiter
- Great Red Spot paling mudah dilihat saat berada di tengah piringan Jupiter
- Observasi saat Jupiter tinggi di langit (kurangi distorsi atmosfer)
- Bersabar—mata perlu waktu untuk beradaptasi dan melihat detail
Pelajaran dari Great Red Spot untuk Sains Iklim Bumi
Memahami Dinamika Atmosfer
Studi tentang Great Red Spot memberi wawasan berharga tentang:
- Sistem tekanan tinggi yang persisten: Bagaimana antisiklon bisa bertahan dalam kondisi ekstrem
- Interaksi jet stream dengan vortex: Mekanisme serupa terjadi di atmosfer Bumi
- Stabilitas atmosfer tanpa daratan: Membantu model iklim planet ekstrasolar
- Transfer energi dalam sistem cuaca: Prinsip yang berlaku universal di semua planet
Aplikasi untuk Prediksi Cuaca
Pemahaman tentang bagaimana badai besar berinteraksi dengan aliran jet (seperti yang dijelaskan Mike Wong dari UC Berkeley) bisa membantu meteorolog Bumi:
- Memprediksi perilaku sistem tekanan tinggi yang persisten
- Memahami blocking patterns yang menyebabkan gelombang panas atau dingin berkepanjangan
- Meningkatkan model prediksi badai tropis
Baca Juga Supermoon Wolf 3 Januari: Bulan Terbesar 2026 Malam Ini
FAQ: Pertanyaan Umum tentang Jupiter Punya Badai 350 Tahun Tak Pernah Berhenti
1. Berapa lama sebenarnya Great Red Spot sudah ada?
Berdasarkan penelitian terbaru tahun 2024, Great Red Spot yang kita amati sekarang telah ada minimal 190 tahun sejak pertama kali diamati pada 1831. Meskipun ada badai serupa yang diamati tahun 1665-1713, studi simulasi menunjukkan itu kemungkinan badai yang berbeda.
2. Mengapa Great Red Spot berwarna merah?
Peneliti belum sepenuhnya yakin apa yang menyebabkan bintik tersebut tampak merah. Beberapa peneliti berpikir ini bisa disebabkan oleh bahan kimia seperti amonia di bagian atas badai, sementara saran lain termasuk senyawa sulfur dan fosfor atau bahan organik. Warna juga berubah seiring waktu, menambah misteri fenomena ini.
3. Apakah Great Red Spot akan hilang?
Tim NASA memprediksi badai akan terus menyusut sebelum mengambil bentuk yang stabil dan kurang memanjang. Begitu menyusut di dalam pita lintangnya, angin akan menahannya di tempatnya. Namun, tidak ada yang tahu pasti—badai ini bisa hilang dalam beberapa dekade atau bertahan berabad-abad lagi.
4. Seberapa dalam Great Red Spot di atmosfer Jupiter?
Data dari misi Juno NASA menunjukkan bahwa Great Red Spot membentang lebih dari 120 mil (200 kilometer) vertikal ke dalam atmosfer Jupiter, konsisten dengan fitur badai yang berkembang jauh di dalam atmosfer planet.
5. Bisakah kita melihat Great Red Spot dari Bumi?
Ya! Great Red Spot dapat diamati dengan teleskop amatir yang layak (minimal refraktor 90mm atau reflektor 4 inci). Anda memerlukan kondisi langit yang baik dan waktu yang tepat saat bintik tersebut menghadap Bumi. Aplikasi astronomi dapat membantu melacak posisinya.
6. Apakah ada badai lain di Jupiter selain Great Red Spot?
Ya, Jupiter memiliki banyak badai lain, termasuk “oval putih” dan badai yang lebih kecil. Beberapa badai ini bergabung membentuk vortex yang lebih besar. Badai yang lebih besar seperti Great Red Spot “memakan” tetangga yang lebih kecil.
7. Mengapa badai di Jupiter bisa bertahan ratusan tahun sedangkan di Bumi hanya beberapa hari?
Faktor kunci adalah Jupiter sebagai planet gas tidak memiliki permukaan, sehingga tidak ada gesekan untuk memperlambat badai. Di Bumi, badai kehilangan energi saat melewati daratan. Jupiter juga memiliki sumber energi internal yang terus memberi daya pada badai-badainya.
Keajaiban Alam Semesta di Halaman Belakang Kita
Great Red Spot Jupiter adalah salah satu fenomena alam paling spektakuler di tata surya kita. Meskipun studi terbaru tahun 2024 menunjukkan bahwa Jupiter punya badai 350 tahun tak pernah berhenti mungkin sedikit berlebihan—karena badai saat ini “hanya” berusia 190+ tahun—fenomena ini tetaplah luar biasa.
Poin-Poin Utama yang Perlu Diingat:
- Great Red Spot adalah badai antisiklon terbesar di tata surya dengan lebar 16.350 km dan kecepatan angin hingga 680 km/jam (NASA, 2024)
- Badai ini telah diamati kontinyu sejak 1831, menjadikannya minimal berusia 190 tahun—penelitian 2024 mengkonfirmasi ini bukan badai yang sama dari abad ke-17
- Observasi Hubble 2023-2024 mengungkap perilaku baru: badai ini “bergoyang” seperti gelatin dengan osilasi 90 hari
- Great Red Spot terus menyusut dengan laju ~900 km/tahun sejak 2012, dan diprediksi akan menjadi bulat pada 2040
- Masa depannya tidak pasti: bisa stabil, menghilang, atau bahkan regenerasi seperti badai sebelumnya
Fenomena ini mengingatkan kita bahwa alam semesta penuh dengan keajaiban yang masih terus kita pelajari. Setiap observasi baru—seperti penemuan “goyang gelatin” tahun 2024—membuka pertanyaan baru dan memperdalam pemahaman kita tentang dinamika atmosfer planet raksasa.
Ayo Diskusi!
Apakah Anda pernah melihat Great Red Spot melalui teleskop? Atau tertarik untuk mencoba mengamatinya? Bagikan pengalaman dan pertanyaan Anda di kolom komentar! Mari kita jelajahi keajaiban tata surya bersama-sama.
Artikel ini ditulis dengan riset mendalam berdasarkan publikasi ilmiah terbaru dari NASA, ESA, dan jurnal peer-reviewed. Semua klaim faktual telah diverifikasi dengan sumber kredibel untuk memastikan akurasi informasi.
Sumber Utama yang Digunakan:
- NASA Goddard Space Flight Center – Hubble Great Red Spot Observations (2024)
- Sánchez-Lavega et al., Geophysical Research Letters (2024) – Origin Study
- NASA Jet Propulsion Laboratory – Great Red Spot Documentation
- European Space Agency – Hubble Observations Database
- The Planetary Science Journal, Volume 5:223 (2024) – 90-day Oscillation Study
- Wikipedia – Great Red Spot (verified dengan NASA sources)
- Space.com, Live Science, CNN Science – Secondary reporting dengan NASA citations